Minggu, 13 Desember 2009

KOMUNIKASI ANTAR PERSONA

JENIS-JENIS KOMUNIKASI ANTAR PERSONA

Prof. Dr. Hafied Cangara MSc. membagi komunikasi antar persona menurut sifatnya menjadi dua, yaitu komunikasi diadik (dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil (small group communication).

  1. Komunikasi Diadik

“Komunikasi diadik adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka”.[1] Dalam komunikasi diadik posisi seseorang dalam suatu waktu dapat menjadi komunikator dan dapat pula menjadi komunikan. “Perlu diingat komunikasi diadik hanya dilakukan oleh dua orang yang saling bergantian menjadi komunikator ataupun komunikan”.[2]

Ada tiga bentuk dalam komunikasi diadik ini, yaitu “percakapan, dialog dan wawancara”.[3] Baik percakapan, dialog maupun wawancara memiliki karakteristik masing-masing. “Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan lebih personal. Sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni ada pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya pada posisi menjawab”.[4]

Komunikasi diadik ini memiliki ciri-ciri. Steward L. Tubbs dan Silvia Moss (dalam Deddy Mulyana, 2005) menjelaskan dua ciri komunikasi diadik. “Pertama, peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat. Kedua, peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal”.[5] Karena jarak yang dekat ini, maka komunikator mengirimkan pesan secara spontan dan komunikan menerima atau merespons pesan tersebut dengan secara spontan pula.

  1. Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication)

“Komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, dimana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lainnya”.[6] Dalam definisi ini minimalnya pelaku komunikasi kelompok kecil terdiri dari tiga orang. Adapun untuk maksimal jumlah pelaku komunikasi kelompok kecil “tidak ada jumlah batasan anggota yang pasti, 2-3 orang atau 20-30 orang, tetapi tidak lebih dari 50 orang”.[7]

Komunikasi kelompok kecil memiliki empat karakteristik. Ketempat karakteristik itu adalah sebagai berikut:

Pertama, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan, jumlahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim maupun penerima. Kedua, para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara. Orang-orang di dalam gedung bioskop bukan merupakan kelompok, karena di antara mereka tidak ada hubungan satu sama lain. Ketiga, di antara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama. Hal ini tidak berarti bahwa semua anggota harus mempunyai tujuan yang persis sama untuk menjadi anggota kelompok. Keempat, para anggota kelompok harus dihubungkan oleh beberapa aturan dan struktur yang terorganisasi. Pada strukturnya ketat maka kelompok akan berfungsi menurut prosedur tertentu di mana setiap komentar harus mengikuti aturan yang tertulis.[8]



[1] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 32.

[2] http://www.kuliahkomunikasi.com/, Kamis, 7 Mei 2009, Pukul 4.11 WIB.

[3] Hafied Cangara, Op. Cit., hlm. 32.

[4] Ibid., hlm. 32.

[6] Hafied Cangara, Loc. Cit., hlm. 32.

7 http://www.oktifauzi.multiply.com/reviews/item/2, Kamis, 7 Mei 2009, Pukul 5.12 WIB.

[8] http://apadefinisinya.blogspot.com/2009/01/komunikasi-kelompok-kecil-small-group.html, Kamis, 7 Mei 2009, Pukul 16.25 WIB.

UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI ANTAR PERSONA

Pembahasan mengenai unsure-unsur komunikasi masa sebenarnya sama dengan pembahasan unsure-unsur komunikasi itu sendiri….”komunikasi hanya bias terjadi kalau didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima, dan efek. Unsur-unsur ini bias juga disebut komponen atau elemen komunikasi”.[9]

1. Sumber (Source)

“Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebut source, sender atau encoder”.[10] Menurut Lasswell ‘komunikator adalah pihak yang mengirim pesan kepada pihak lain’.[11] Dalam dunia da’wah komunikator ini lazimnya disebut dengan istilah da’i.

2. Pesan (Message)

“Dalam Bahasa Inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content atau information”.[12] Menurut Laswell ‘pesan adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain’.[13] Dalam dunia da’wah pesan ini tidak lain adalah isi da’wah.

3. Media (Channel)

Laswell menjelaskan, ‘media atau channel adalah alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator ( sumber) kepada komunikan (penerima) baik secara langsung (tatap muka), maupun tidak langsung (melalui media cetak/elektronik)’.[14] Selanjutnya Laswell menjelaskan, ‘dalam komunikasi antar pribadi atau tatap muka, saluran dapat menggunakan udara yang mengalirkan getaran nada atau suara’. [15] Sedangkan “dalam komunikasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat, membaca dan mendengarnya”.[16] Dalam dunia da’wah media sangat diperlukan sekali dalam rangka menunjang efektifitas da’wah.

4. Penerima (Receiver)

“Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bias terdiri satu orang atau lebih, bias dalam bentuk kelompok, partai atau negara”.[17] Penerima “dalam Bahasa Inggris disebut audience atau receiver”.[18] Dalam dunia da’wah penerima ini lazimnya disebut dengan istilah mad’u.

5. Efek

“Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan”.[19] Ada beberapa indikator yang menandakan pengaruh atau efek terhadap penerima, yaitu “perubahan sikap, bertambahnya pengetahuan dan lain-lain”.[20] Dalam dunia da’wah pesan-pesan da’wah yang disampaikan atau dikirimkan kepada mad’u itu harus dapat merubahan mad’u dari tidak tahu menjadi tahu dan dari jelek menjadi baik.



[9] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 21.

10 Ibid., hlm. 23.

11 http://www.ainaalbi.blogsome.come/2008/01/06/ko..., Jum’at, 8 Mei 2009, Pukul 13.31 WIB.

12 Hafied Cangara, Loc. Cit., hlm. 23.

13 http://www.ainaalbi.blogsome.come/2008/01/06/ko..., Jum’at, 8 Mei 2009, Pukul 13.31 WIB.

[14] http://www.denikusdiansyah.wordpress.com/2008/...., Jum’at 8 Mei 2009, Pukul 13. 39 WIB.

[15] http://www.ainaalbi.blogsome.come/2008/01/06/ko..., Jum’at, 8 Mei 2009, Pukul 13.31 WIB.

16 Hafied Cangara, Loc. Cit., hlm. 24.

17 Ibid., hlm. 25.

18 Ibid., hlm. 25.

[19] Ibid., hlm. 25.

[20] http://www.denikusdiansyah.wordpress.com/2008/...., Jum’at 8 Mei 2009, Pukul 13. 39 WIB.

BEBERAPA TEORI KOMUNIKASI ANTAR PERSONA

Ada beberapa teori dalam komunikasi antar persona. Salah satunya adalah teori penetrasi sosial, teori atribusi dan teori saling melengkapi.

1. Teori Penetrasi Sosial

Teori penetrasi sosial ini dikemukakan oleh Irwin Altman dan Darlmas Taylor. Inti dari teori ini adalah “dalam hubungan antarpribadi selalu terjadi penyusupan sosial”.[21] Sebagai bentuk konkritnya adalah contoh di bawah ini:

Pada tahap awalnya, suatu hubungan biasanya ditandai dengan kesempitan (narrowness) – topik yang dibahas hanya sedikit dan kedangkalan (shallowness) – topik yang didiskusikan hanya dibahas secara dangkal. Jika pada permulaan hubungan topik-topik dibahas secara mendalam biasanya anda akan merasakan ketidak nyamanan. Bila pengungkapan diri yang bersifat intim dilakukan pada tahap awal hubungan, kita merasa ada yang janggal pada orang yang melakukannya.[22]

2. Teori Atribusi

Baron dan Birne menjelaskan, ‘atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang nampak’.[23] Teori atribusi ini dikemukakan oleh Heider. Heider menjelaskan, ‘jika Anda melihat perilaku orang lain, maka Anda juga harus melihat sebab tindakan seseorang’.[24] Jalaludin Rakhmat menjelaskan, ‘ada dua jenis atribusi, yaitu atribusi kausalitas dan atribusi kejujuran’.[25]

Heider menjelaskan mengenai atribusi kausalitas. Menurutnya, ‘bila kita mengamati perilaku social, pertama-tama kita menentukan terlebih dahulu apa yang menyebabkannya; faktor situasional atau personal’.[26] Baron dan Birne menjelaskan mengenai atribusi kejujuran. Menurut keduanya, teori ini harus diperhatikan dalam dua hal, yaitu ‘pertama, sejauh mana pernyataan orang itu menyimpang dari pendapat yang popular dan diterima orang. Kedua, Sejauh mana orang itu memperoleh keuntungan dari kita dengan pernyataan itu’.[27]

3. Teori Saling Melengkapi (Complementarity)

Teori saling melengkapi in dikemukakan oleh Theodore Reik. Mengenai teori ini ia menjelaskan sebagai berikut:

kita jatuh cinta kepada orang yang memiliki karakteristik yang tidak kita miliki dan bahwa sebenarnya kita merasa iri. Orang tertarik kepada orang lain yang tidak serupa hanya dalam situasi-situasi tertentu., Sebagai contoh, mahasiswa yang patuh dapat sangat cocok dengan seorang dosen yang agresif, tetapi mahasiswa ini tidak bias hidup cocok dengan istri atau suami yang agresif. Istri yang dominant mungkin cocok dengan suami yang penurut tetapi mungkin tidak cocok untuk beraul dengan teman yang penurut.[28]

“Teori ini meramalkan bahwa orang akan tertarik kepada mereka yang tidak serupa dengannya (artinya, tidak dogmatis)”.[29]



[21] Alo Liliweri, Komunikasi Antarpribadi (Bandung: PT Aditya Bakti, 1997), hlm. 53.

[23] http://www.teraskita.wordpress.com/2009/04/18/..., Jum’at 8 Mei 2009, Pukul, 16.13 WIB.

[24] Alo Lileweri, Op. Cit., hlm. 52.

[25] Ibid., hlm. 52.

[26] http://www.teraskita.wordpress.com/2009/04/18/..., Jum’at 8 Mei 2009, Pukul, 16.13 WIB.

[27] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar